Mungkin menjadi jawaban doanya :)


Hari ini benar2 sepi kerjaan, bingung mau ngapain, mau chat ga ada yang asyik diajakin chat, so aku pilih nulis aja lagi dech, udah lama juga ga merangkai kata-kata.
Kali ini aku mau cerita pengalamanku saat menolong seorang anak laki2 berkulit hitam dan kurus kecil penjual koran. Malam itu aku pulang dari pertemuan dengan teman2 GMKI. Sekitar jam 23.30 WIB aku lewat Simpang Kara menuju ke rumahku di Tembesi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang anak laki2 penjual koran yang mengulurkan tangannya tanda meminta tumpangan, saat itu aku memperlambat kecepatan sambil berpikir "Ya Tuhan, udah malam kayak gini, malah gelap lagi jalan didepan", saat itu aku lumayan takut karena suasana sepi dan gelap, yang terpikir adalah cerita2 keriminal, wah benar2 takut dech, tapi hati kecil tak bisa ditipu "kasihan juga tuh anak", udah malam gini jarang ada angkutan umum. Akhirnya aku putuskan untuk berhenti dan memberikan tumpangan. Anak itu naik ke atas motor dan bilang "Tante numpang sampai Simp. Kabil yach". Di perjalanan masih sempat kepalaku ini berpikir "aduh jangan2 dia tikam aku dari belakang", tapi ku tepis pikiran buruk itu cepat2 dan aku cari topik untuk ngajak ngbrol tuh anak agar jangan ada niat jahat dia ke aku pikirku saat itu.
Ternyata anak itu masih sangat kecil, kalo gak salah ingat dia kelas 3 SD dan seorang anak yatim dan anak semata wayang, ibunya hanya seorang pencuci kain keliling, dia kerja sampai tengah malam dari pulang sekolah dan ada jemputan di Simp. Kabil yang akan membawa dia ke rumah. Aku hanya bisa kasih semangat kepadanya untuk tetap semangat dalam hidup.
Ketika dia sudah turun dan aku melanjutkan perjalananku pulang, aku terus berpikir "bisa2nya aku berpikir jahat tentang anak itu padahal terlalu kecil utknya brada disana malam itu hnya utk selembar rupiah" dan mungkin saja dia sudah lama berdiri disana dan berdoa. Aku tersadar kadang sebagai manusia yg trbatas aku kurang bersyukur, terlalu sering aku menatap keindahan bintang di langit padahal tanah yang ku pijakpun lupa utk aku syukuri. Paling tidak kini aku semakin mengerti, jangan takut menolong sekalipun mungkin hal terburuk akan menimpa kita, karena mungkin kelak kita akan berada diposisi pemohon pertolongan.
Oh ya, aku jadi teringat juga anak2 jalanan yang semakin banyak di lampu merah kota ini, apakah kota ini semakin miskin??? Anehnya lagi, aku pernah dengar dan baca beberapa pesan yg melarang untuk memberikan sedikit yg kita punya untuk mereka agar mereka jgn jadi pemalas. Ouh tidak, pernahkah kita ber-empati sejenak ato coba bayangkan brganti posisi sesaat, tidak mudah untuk jadi mereka, mungkin merekapun tak mau berada disana, sebanyak apapun lembar rupiah yg mampu mereka kumpulkan tdk akan mmbuat mereka kaya raya, mereka hanya ingin hidup bahagia sama seperti kita, hanya mungkin bedanya mereka hidup oleh belas kasihan sesamanya.
Hari ini aku juga mendengar sebuah lagu berjudul “Bagaimana dengan mereka?” (One Way)
Sepenggal lagu itu
"Bagaimana dengan mereka yang menjerit karena lapar?"

Berharap hati kita bisa seperti cahaya matahari yang mampu menyinari seluruh makhluk di bumi meskipun dengan porsi yg mampu kita berikan, betapa indahnya saat kita mampu memperhatikan dan menolong sesama kita tanpa memandang siapa dia yg membutuhkan pertolongan karena ada saat roda pedati berada dibawah dan sadarkah kita bahwa lewat mereka Tuhan menguji kasih dalam tindakan umatNYA
^__^

Batam, 25 Agustus 2012
Elfrida Marbun


Komentar

Postingan Populer