Bukit Permata, Gunung Sepincan, 13-14 September 2025


Bukit Permata, Gunung Sepincan, 13-14 September 2025 

Oleh: Elfrida Marbun

Terbit di Batamnews

Dua hari dimana aku yang untuk pertama kalinya ikutan menjelajahi hutan, bukit dan gunung. Datang dengan semangat yang besar untuk bisa melewati batas kemampuan diri sendiri, menaklukkan salah satu gunung di Lingga.


Awalnya mikir, cocok nih 1001 meter di atas permukaan laut (Mdpl) untuk pemula kayak aku ini, dan suka jalan kaki (sehari minimal 10K langkah).


Bersama adikku Anan, kami pergi menuju Pulau Lingga. Kami bertemu Teteh Ndah, Della, Annisa, bang Rio dan bang Jan. Perjalanan kami dipandu bang Jasmaria dan beberapa orang porter.


Berangkat melalui jalur Balai Desa Panggak Darat, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, kami berjalan ditemani mendung, gerimis dan hujan secara bergantian, seolah alam meningkatkan level tantangan dari titik START.


1-2 jam pertama kami lalui dengan jalur tanah melandai, semangatku masih amat sangat besar, dalam hatiku "Wah hutan ini mirip hutan di Topas, Tapung, Kampar, Riau (tempat tinggal orangtuaku) di tahun 2000, masih banyak pohon setinggi-tinggi ini, masih banyak rerumputan dan semak-semak. Seolah rasa rinduku pada Topas tahun 2000 terbayar dengan melihat isi hutan ini."


Pelan-pelan tapi renyah, eh bukan, tapi nyaris nyerah, tantangannya aduhai sayangku. Aku seperti sedang latihan militer masuk hutan, hutan di Gunung Sepincan ini benar-benar masih "Perawan". Beberapa kali aku bernyanyi lagu Hitaro "Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang". Dan Iya, kayak gitu rasanya kawanku.


Bang Jan, salah satu teman yang ganteng diantara kami ber-tujuh pendaki saat itu, dia berkomentar "Track-nya luar biasa menanjak dan banyak yang curam hampir 75-80°, dihajar hujan sepanjang pendakian, kiri-kanan track penuh bebatuan besar dan jurang, harus extra hati-hati, butuh full effort dan mental yang kuat untuk sampai ke puncak. Track pendakian ini tiga kali lebih sulit dari track pendakian gunung-gunung 3000-an Mdpl, jangan meremehkan ketinggiannya, tapi track-nya sangat menguji emosional."


Dan beberapa teman yang sudah sering mendaki di beberapa gunung 3000-an Mdpl di Jawa, Jabar dan Sumbar pun setuju dengan hal tersebut.


Termasuk adikku si Ananhe, yang pernah mendaki Gunung Sendoro dan Gunung Sumbing berkomentar "Kok begini amat penderitaan yang harus ku lalui ya Pak?" ke Pak Ngah salah satu tim yang menemani saat itu.


Nah, kebayang dong tantangan yang aku hadapi? sebagai orang yang perdana naik gunung, tapi disuguhi tantangan demi tantangan yang seakan tanpa jedah dan tanpa henti, apalagi adikku itu, 100 kg berat badannya, bisa bayangkan dia mendaki tebing yang kemiringannya hampir 90° dengan 2 utas tali kanan kiri? Tak ada kata selain "Luar biasa!"


Akar pohon jadi pegangan saat mendaki, batang pohon jadi pegangan saat butuh keseimbangan, dan di track yang ini aku suka banget, karena ada jedah waktu yang dibutuhkan agak lama, jadi ada waktu untuk menetralkan detak jantung dan nafas, jadi ingat dulu waktu kecil aku suka manjat pohon-pohon besar dan tidur di atas dahan pohon itu. Lagi-lagi kegiatan ini mengembalikan memori yang dulu.


Sungai-sungai pun tak mau kalah, airnya jernih dan segar sampai ke tenggorokanku ini. Ku bilaskan wajahku dengan air sungai. Oh ya, satu lagi, ada sungai yang sering disebut warga lokal sebagai "Air Timah" dan dipercaya banyak khasiatnya. Lalu dengan berguyon aku bilang "Semoga ya saya dapat jodoh segera" sambil minum air timah dan kami pun tertawa.


Oh ya, di titik-titik terendah semangatku saat itu yang nyaris nyerah, tiba-tiba saja dua pemuda tampan datang menolong dan memberi semangat yaitu bang Ruzi dan bang Robi. Kata-kata bang Ruzi berkali-kali nyampai ke telinga ini "Tak kan lari gunung dikejar kak".


Selangkah demi selangkah, sambil mengatur nafas yang bising dan detak jantung yang seolah lagi main dram musik rock, dengan sabarnya, mereka mendampingi aku dan Annisa untuk sampai ke Puncak Bukit Permata, Gunung Sepincan di pukul 19.30 WIB malam (berangkat pukul 8:45 pagi).


Niatku "mencuri" mainan pisau kayu yang dibikin bang Robi di sepanjang perjalanan, untuk jadi kenang-kenangan dari Sepincan malah kelupaan, bahkan saat turun gunung dan kembali ke basecamp pukul 18:30 WIB (berangkat pukul 10:30 WIB), gak sempat untuk nyuri pisau kayu itu, karena kali ini bang Robi memandu Della. Aku dengan tim bang Jas, bang Ruzi, Teten Ndah & Annisa.


Tulisan singkat ini ku tutup dengan komentar pribadiku "Setiap langkah tidak hanya butuh kekuatan, tapi tekad dan semangat untuk terus melangkah dan tiba di Puncak Bukit Permata dan Gunung Sepincan bersama mereka yang punya segudang semangat dan dibagikan padaku dengan melimpah."


Tak lupa juga terimakasih untuk tim pemandu, porter, JAMBOE selaku penyelenggara kegiatan ini, juga teman-teman pendaki yang ketawanya renyah dan kriuk kriuk, aku...padamu..


Desa Panggak Darat, Lingga, 15 September 2025

Komentar

Postingan Populer